Untuk hari rabu atau pertemuan kulaih etika kemarin dikatakan memang keteledoran saya dalam mengatur jam tidur,karena sudah saya alarm pun telinga saya tidak mendengar suara alarm terdebut,hingga saya tiba tiba bangun dan melihat jam dan ternyata sudah jam 9.30 saya mungkin menyesal karena tidak masuk kelas terbut karena kesempatan bolos di kuliah ini saya habiskan,mungkin hal tersebutlah yang bisa membuat saya mengerti mengatur jam tidur.
Di posisi itu saya tidak masuk kelas namun menyimak grup whatsapp yang ada dikelas ,ada salah satu seorang teman saya mengshare apa saja kuliah pada hari itu , nampaknya hari itu dijelaskan beberapa tugas untuk minggu depan dan ujian akhir semester etika bakalannya ngapain. Yahhh mungkin saya hanya bisa mendapat beberapa info tersebut sih jadi jika disuruh buat menceritakan ada apa di kuliah di hari tersebut mungkin saya tidak bisa menceritakan dengan panjang lebar ....
Minggu, 28 April 2019
Diray Etika #4
Di hari rabu selanjutnya, aku berencana untuk pergi bersama teman SMA. Nah, sebenarnya aku masih ada uang sisa ketika kuliah , tapi aku tetap minta uang lagi karena untuk jaga-jaga hehehe. Sebenarnya kasian harus minta-minta uang pada ibu, tapi ya bagaimana lagi, jika tidak minta aku tidak punya setelah minta uang dengan rayuan kepada ibu, aku di beri uang lagi, tapi ya begitu, ibu sambil banyak menasehati, bahwa aku tidak boleh boros dengan uang dan dalam hatiku berbicara “Sebenarnya uang jajanku kemarin masih, Bu, tapi ini hanya untuk jaga-jaga saja kalau kurang.” Tapi aku tidak berani mengungkapkanya. Kemudian, teman-temanku datang ke rumah dan aku berpamit untuk pergi bersama teman-teman. Sesampainya di rumah setelah bermain bersama teman-teman, benar saja uang yang aku minta lagi itu masih utuh, lalu aku berikan lagi kepada ibu. Aku tidak tega jika bercerita tentang orangtua, apalagi ibu. Apalagi jika ibu serang tidak ada duit mungkin saya akan mencari uang ke sumber yg lain sihhh.
Diary Etika #3
Pagi menjelang siang, matahari pun mulai beranjak di atas kepala. Siang itu aku pergi ke kost teman saya , daerah Jalan kaliurang km 7. Di saat perjalanan pulang, ketika aku berhenti di lampu merah, melihat seorang gadis kecil yang sedang menawarkan koran, gadis itu terlihat sangat lelah dan menahan panasnya siang itu. Ketika lampu hijau menyala, aku berjalan akan tetapi lampu merah juga cepat menyala, aku berhenti lagi dan semakin dekat dengan gadis kecil penjual koran tersebut. Jujur saja, dalam hati kecil tidak tega melihat gadis itu berjualan koran di bawah teriknya matahari siang tadi. Seketika aku teringat keponakan di rumah yang mungkin seusia dengan gadis kecil penjual koran itu. Kemudian, tanpa berpikir panjang aku membeli koran tersebut yang mungkin saja nantinya akan tergeletak di meja kamar kost. Kemudian, sesampainya di kost, aku memberitahu hal tersebut kepada Ibu di rumah melalui pesan singkat whatsapp.
Selasa, 09 April 2019
Diary #2 Review Film “ Bad Genius ”
Diary
#2 Review Film “ Bad Genius ”
Pada
pertemuan kedua mata kuliah etika,di lihatkan film Bad Genius namun sangat
disayangkan saya tidak masuk kelas dikarenakan terlambat bangun, namun disini
saya dan teman teman di beri tugas oleh dosen yaitu mereview film Bad Genius
dan diupload di blog,dan dibawah saya akan meriview film Bad Genius yang saya
tonton di YouTube dan melihat di web browser.
Film ini di produksi di
negara Thailand, Bad Genius merupakan film yang
menceritakan tentang pelajar pintar yang menjadikan budaya mencontek sebagai
ladang bisnis. Lynn (Chutimon Chuengcharoesukying) adalah seorang murid yang
pintar. Ia memenangkan banyak kompetisi.
Ayahnya memindahkan Lynn ke sekolah yang paling bergensi di Bangkok.
Tujuannya agar ia bisa kuliah ke luar negeri. Di sekolah baru ini, ia
mendapatkan beasiswa berkat kepintarannya.
Awalnya Lynn keberatan
untuk pindah sekolah karena sudah merasa nyaman dengan sekolah sebelumnya.
Namun sejak bertemu Grace (Eisaya Hosuwan), Lynn bisa beradaptasi. Grace adalah
siswa yang cantik tapi payah dalam pelajaran. Mengetahui Lynn anak yang pintar,
Grace meminta tolong Lynn untuk mengajarinya karena akan ada ulangan
Matematika. Saat ulangan berlangsung, Lynn merasa soal-soal tersebut telah ia
pelajari bersama Grace tapi Grace tidak mengingatnya. Akhirnya Lynn membantu
Grace dengan menuliskan jawaban di penghapus, meletakkannya di sepatu, lalu
menukarkannya dengan Grace.
Berkat aksi ini, Grace
mendapatkan nilai yang tinggi. Mengetahui hal itu Pat (Teeradon Supapunpinyo),
pacar Grace, mempunyai ide untuk menjual kepintaran Lynn menjadi uang. Karena
ia menyadari kalau ia membutuhkan untuk keperluan sekolah dan keluarganya, ia
pun bersedia. Lynn mengajarkan kode-kode gerakan jari dari not piano kepada
siswa-siswa yang membayarnya agar tidak ketahuan dalam melancarkan aksi
mencontek.
Cerita mulai memanas
ketika salah seorang siswa laki-laki bernama Bank (Chanon Santinatornkul)
melaporkan seorang seorang siswa yang ia curigai mencontek kepada Lynn. Bank
merupakan anak laki-laki pintar yang juga mendapatkan beasiswa seperti Lynn. Ia
berasal dari keluarga yang miskin. Bank juga menjadi saingan Lynn untuk
mendapatkan beasiswa ke Singapura. Karena laporan dan Bank ini, bisnis kursus
piano (mencontek) pun terbongkar.
Puncak cerita dalam
film ini adalah ketika, Lynn dan Bank mendapat tawaran dari Pat dan Grace untuk
menjadi joki dalam ujian internasional SITC dengan memanfaatkan perbedaan
waktu. Lynn dan Bank mengerjakan ujian di Sydney yang lebih dahulu beberapa jam
dan mengirimkan kunci jawaban kepada teman-teman yang ada di Thailand. Dari
misi ini mereka akan mendapatkan ratusan juta baht.
Aksi menconteknya
memiliki teknik dan trik yang tak diduga contohnya saja dengan memakai kode
dari gerakan jari not piano. Menurut saya, sutradaranya begitu cermat
memperhatikan trik yang digunakan dan membuat suasana tegang dari aksi-aksi
mencontek tersebut.
Secara keseluruhan film
ini membuat saya penasaran di setiap aksi-aksi yang mereka lakukan. Alurnya pun
tak diduga-duga. Komentar yang keluar dari mulut saya setelah menyelesaikan
film ini adalah Pintar yaa tapi Bodoh sesuai sama judulnya wkwk.
Nilai moral yang
terdapat dalam film ini adalah gunakan kepintaran ke arah yang lebih positif.
Jumat, 05 April 2019
Kurikulum berbasis Kompetensi
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk invovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 disempurnakan lagi sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi disentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tentang otonomi daerah.
Pada era ini kurikulum yang dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002). Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggungjawab.
Harapan masyarakat terhadap kurikulum pendidikan di Indonesia, pada hakikatnya adalah adanya komunikasi dua arah yang memungkinkan kegiatan belajar mengajar menjadi interaktif dan menyenangkan, baik bagi siswa maupun bagi guru. Belajar menyenangkan itulah sebenarnya konsep pendidikan yang dapat membawa peserta didik (siswa) untuk menguasai kompetensi akademik, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Harapan-harapan inilah yang seharusnya diakomodasi di dalam penyusunan kurikulum.
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang hanya berlaku sampai tahun 2006 di sekolah-sekolah pada dasarnya adalah merupakan gagasan dari Kurikulum Berbasis Kemampuan Dasar (KBKD) yang memfokuskan pada wujud pertumbuhan dan perkembangan potensi peserta didik. KBK merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah.
Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Berhubung kurikulum 2004 yang memfokuskan aspek kompetensi siswa, maka prinsip pembelajaran adalah berpusat pada siswa dan menggunakan pendekatan menyeluruh dan kemitraan, serta mengutamakan proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning atau CTL)
Dalam pelaksanaan kurikulum yang memegang peranan penting adalah guru. Guru diibaratkan manusia dibalik senjata kosong yang tidak berpeluru. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas guru untuk mengisi senjata itu dan membidiknya dengan cermat dan tepat mengenai sasaran. Keberhasilan kurikulum lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kompetensi guru. Oleh karenanya, tidak berlebihan apabila dalam diskusi mengenai “Potret Pendidikan di Indonesia dan Peran Guru Swasta”, J. Drost (2002) menegaskan bahwa materi kurikulum, terutama untuk mata pelajaran dasar, di seluruh dunia pada dasarnya sama. Yang membedakannya adalah cara guru mengajar di depan kelas.
Inti dari KBK adalah terletak pada empat aspek utama, yaitu :
1) kurikulum dan hasil belajar,
2) pengelolaan kurikulum berbasis sekolah,
3) kegiatan belajar mengajar, dan
4) evaluasi dengan penilaian berbasis kelas.
Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk invovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 disempurnakan lagi sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi disentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tentang otonomi daerah.
Pada era ini kurikulum yang dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002). Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggungjawab.
Harapan masyarakat terhadap kurikulum pendidikan di Indonesia, pada hakikatnya adalah adanya komunikasi dua arah yang memungkinkan kegiatan belajar mengajar menjadi interaktif dan menyenangkan, baik bagi siswa maupun bagi guru. Belajar menyenangkan itulah sebenarnya konsep pendidikan yang dapat membawa peserta didik (siswa) untuk menguasai kompetensi akademik, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Harapan-harapan inilah yang seharusnya diakomodasi di dalam penyusunan kurikulum.
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang hanya berlaku sampai tahun 2006 di sekolah-sekolah pada dasarnya adalah merupakan gagasan dari Kurikulum Berbasis Kemampuan Dasar (KBKD) yang memfokuskan pada wujud pertumbuhan dan perkembangan potensi peserta didik. KBK merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah.
Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Berhubung kurikulum 2004 yang memfokuskan aspek kompetensi siswa, maka prinsip pembelajaran adalah berpusat pada siswa dan menggunakan pendekatan menyeluruh dan kemitraan, serta mengutamakan proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning atau CTL)
Dalam pelaksanaan kurikulum yang memegang peranan penting adalah guru. Guru diibaratkan manusia dibalik senjata kosong yang tidak berpeluru. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas guru untuk mengisi senjata itu dan membidiknya dengan cermat dan tepat mengenai sasaran. Keberhasilan kurikulum lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kompetensi guru. Oleh karenanya, tidak berlebihan apabila dalam diskusi mengenai “Potret Pendidikan di Indonesia dan Peran Guru Swasta”, J. Drost (2002) menegaskan bahwa materi kurikulum, terutama untuk mata pelajaran dasar, di seluruh dunia pada dasarnya sama. Yang membedakannya adalah cara guru mengajar di depan kelas.
Inti dari KBK adalah terletak pada empat aspek utama, yaitu :
1) kurikulum dan hasil belajar,
2) pengelolaan kurikulum berbasis sekolah,
3) kegiatan belajar mengajar, dan
4) evaluasi dengan penilaian berbasis kelas.
Sumber :
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/dr-dwi-rahdiyanta-mpd/19-kurikulum-berbasis-kompetensi-kbk-pengertian-dan-konsep-kbk.pdf
Selasa, 02 April 2019
Diary Etika #1
Guru adalah sosok yang memberikan motivasi, mengarahkan, memotivasi, memperjuangkan, menenangkan.Sebagai orang tua yang mengamanahkan putra putrinya ke sekolah tak lain hanya ingin putra putrinya fasih terdidik. Menjadi guru adalah amanah idealisme dan panggilan jiwa bukan sekedar panggilan ijazah. Yang akan membawa kemana paradigma bangsa ini disandarkan, yang akan membawa manusia-manusia mengenal masa depannya. Guru tak ubahnya lentera dalam kegelapan akal. Dengan ilmu akan menjelaskan adab, dengan ilmu ia akan mengenalkan jiwa-jiwa pada penciptanya, dengan ilmu dia akan bersahabat dengan alam. Dengan ilmu ia akan menunjukan dua jalan baik dan buruk.Guru adalah kemuliaan gellar bagi seorang pendidik, seseorang yang memberikan pencerahan hidup.Guru adalah sosok intelektual bermoral, sosok intelektual yang berjiwa pengabdian, intelektualnya pendidikan dan intelektual masyarakat sesungguhnya. Guru adalah penentu anak bangsa, pemegang tombak sejarah kemenangan, dan pemegang tintaa emas peradaban ilmu.
Oke,disini saya akan bercerita tentang apa yang saya dapat tetntang mata kuliah etika.Dari mata kuliah inilah saya mendapatkan ilmu yang berbeda dari mata kuliah yang lain dimana mata kuliah ini mengajarkan saya tentang sifat sifat yang perlu diperhatikan setelah menjadi guru,dimulai ketika dosen saya yang bernama Ibu Endah dan Bapak Grendi yang meminta kami untuk berangkat jam 07.30 dan itu bisa diartikan bahwa kami sangat dituntut disiplin didalam mata kuliah ini karena menjadi seorang guru haruslah disiplin.
Oke,disini saya akan bercerita tentang apa yang saya dapat tetntang mata kuliah etika.Dari mata kuliah inilah saya mendapatkan ilmu yang berbeda dari mata kuliah yang lain dimana mata kuliah ini mengajarkan saya tentang sifat sifat yang perlu diperhatikan setelah menjadi guru,dimulai ketika dosen saya yang bernama Ibu Endah dan Bapak Grendi yang meminta kami untuk berangkat jam 07.30 dan itu bisa diartikan bahwa kami sangat dituntut disiplin didalam mata kuliah ini karena menjadi seorang guru haruslah disiplin.
Dan yang kedua saya diajarkan bagaimana menjadi seorang guru dimasa mendatang,karena dirasa siswa yang akan datang akan lebih aktif dan kreatif dan sangat mengandalkan komunikasi dan internet sehingga pengetahuan siswa lebih jauh luas.
Dan perubahan mulai saya rasa dimana,saya mulai disiplin dalam hal bangun dan mulai berpenampilan seolah olah seperti guru karena untuk membangun karakter saya di masa yang akan datang.Seperti rambut yang mulai menggunakan pomade dan berpotong rapi dan memakai celana hitam bukan jeans,karena dirasa celana jeans tidak sopan ketika sudah menjadi guru.
Sedangkan nilai nilai yang lain,mungkin saya rasa bagaimanalah
saya menjadi seorang calon guru yang aktif dan akrab dengan siswa karena dari
akrab distiulah siswa menjadi aktif dan gampang berkomunikasi dengan kita.
Ilmu yang saya dapat di mata perkuliahan ini sangatlah penting bagi saya karena jika tidak ada mata kuliah ini mungkin saya tidak tahu harus bagaimana berpenampilan dan bersifat seorang guru.
Langganan:
Postingan (Atom)